Pada awal dicetuskannya pemilihan langsung oleh pemerintas guna menegakkan jalan demokrasi namun hingga sampai saat ini yang baru saja selesai melakukan pemilihan presiden ( PilPres ). Sehingga orang yang merasa dirugikan akan hal itu membawanya ke MK ( Mahkamah Konstitusi ) yang baru saja dibentuk pasca terlalu banyaknya polemik pasca pemilihan langsung dan MA ( Mahkamah Agung ) masih belum bisa mengatasinya.
Dari polemik pilpres itulah maka MK ( Mahkamah Konstitusi ) mempelajari apa yang diajukan oleh Pemohon I : Jusuf Kalla dan Wiranto, Pemohon II : Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, dan Termohon : Komisi Pemilihan Umum ( KPU ).
Kemudian MK ( Mahkamah Konstitusi ) menyatakan bahwa tidak adanya kecurangan dan penggelembungan suara oleh salah satu pasangan calon. Akan tetapi, itu adalah kesalahan Komisi Pemilihan Umum yang bersifat prosedural dan administratif. Jadi, MK ( Mahkamah Konstitusi ) tidak melihat adanya pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan masih yang membuat pemilihan presiden di ulang ( Kompas, 13/08).
Dari contoh kasus diatas yang sering terjadi dan dialami oleh para kontestan pilkada( Pemilihan Kepala Daerah ), pilkades ( Pemilihan Kepala Desa ), Pileg ( Pemilihan Legislatif ), Pilpres ( Pemilihan Presiden ). Sehingga menjadikan negeri ini sudah mulai adanya penyempitan serap aspirasi yang mengakibatkan kurangnya kontrol/simbiosis mutualisme antara kontestan dan kontituen yang akan berlaga di pemilihan wakil rakyat dan pemimpin rakyat.
Disamping itu demokrasi disini adalah sebuah kebebasan berpendapat, memilih, dipilih, berkreasi dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua itu sudah mulai hambar dan gamang ketika pihak atasan/pemegang jabatan sudah mulai mengintervensi kebebasan yang kita miliki sampai kepada ranah tekhnis ( Pencontrengan/pencoblosan ) sekalipun. Melalui kekuasan dan kekuatan yang digenggamnya itu dimanfaatkan untuk kepentingan kelompoknya dan dirinya sendiri dengan dalih untuk kepentingan rakyat.
Meskipun adan tanggapan kurang etis dengan memanfaatkan jabatan yang dimilikinya, tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa semua itu tergantung dari individu konstituennya masing – masing. Maka pertanyaan ang timbul adalah apakaha mereka berjuang mempertahankan jabatannya memang untuk kemaslahatan umat atau hanya unatuk memperkayadiri dan kelompoknya?
Demokrasi di bumi pertiwi ini mulai menangis dengan adanya konspirasi – konspirasi yang dilakukan oleh orang yang masih belum mengerti dengan demokrasi yang sesungguhnya. Kalau bicara tentang orangpintar di Indonesia tidak sedikit jumllahnaya akan tetapi, dari kebanyakan orang yang pitar itu hanyalah sedikit sekali orang yang mengerti akan hal ini dan bahkan itu bisa dihitung dengan jari.
Jumat, 05 Maret 2010
Kamis, 04 Maret 2010
ORGANISASI SENTRAL KAMPUS ANTARA HARAPAN DAN KEHANCURAN*
Dalam sebuah ruang lingkup kampus memang perlu adanya sebuah organisasi yang membawahi berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa dan Organ Intra lainnya agar semuanya ada yang mengontrol dalam berbagai kegiatan yang dilakukan. Dalam hal ini, kontrol tersebut bukannya ingin mengintervensi semua kegiatan yang akan dilakukan oleh organ tersebut, akan tetapi hal itu semata – mata hanyalah sebagai media penyambung kepada tingkat yang lebih tinggi.
Disamping kontroling maka perlu adanya kerja sama antara keduanya bahkan juga perlu adanya simbiosis mutualisme. Jika melihat dari sejarah yang telah kita ketahui bersama bahwa organisasi tersebut mempunyai taring yang sangat dahsyat sehingga suara yang diteriakkan menggelegar, bagaikan petir disiang hari.
Berawal dari sebuah kegelisahan yang sudah mulai dirasakan oleh mahasiswa khususnya bagi pengurus organisaasi yang sudah mulai mengendus adanya sebuah kejanggalan. Namun semua itu masih belum direspon oleh berbagai kalangan. Padahal tanda – tanda tersebut sudah mulai nampak, yaitu dengan adanya pembatasan – pembatasan ruang gerak yang selama ini sudah biasa dilakukannya sehingga gerakannya tidak masif lagi.
Dalam hal itu perlu dicermati bahwasanya, kita sudah mulai dijajah meskipun Belanda sudah pergi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia kita. Akan tetapi, kita saat ini sudah dijajah melalui akademik sehingga idealisme mahasiswa mulai terkoyak – koyak. Hal itu dirasakan oleh mahasiswa pada awal tahun 2006 – an, hingga sampai saat ini gerakan itu mulai masif.
Kita akui bersama bahwasanya selama ini para petinggi – petinggi diberbagai lapisan akademik sudah mulai menyetir kita hingga sampai pada ranah tekhnis. Maka dari itu, perlu adanya langkah konkrit yang ditempuh agar kita semua tidak ditunggangi oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab dan semua itu hanyalah kepentingan segelintir orang yang ingin memanfaatkan kelemahan kita.
abdul rasit
Disamping kontroling maka perlu adanya kerja sama antara keduanya bahkan juga perlu adanya simbiosis mutualisme. Jika melihat dari sejarah yang telah kita ketahui bersama bahwa organisasi tersebut mempunyai taring yang sangat dahsyat sehingga suara yang diteriakkan menggelegar, bagaikan petir disiang hari.
Berawal dari sebuah kegelisahan yang sudah mulai dirasakan oleh mahasiswa khususnya bagi pengurus organisaasi yang sudah mulai mengendus adanya sebuah kejanggalan. Namun semua itu masih belum direspon oleh berbagai kalangan. Padahal tanda – tanda tersebut sudah mulai nampak, yaitu dengan adanya pembatasan – pembatasan ruang gerak yang selama ini sudah biasa dilakukannya sehingga gerakannya tidak masif lagi.
Dalam hal itu perlu dicermati bahwasanya, kita sudah mulai dijajah meskipun Belanda sudah pergi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia kita. Akan tetapi, kita saat ini sudah dijajah melalui akademik sehingga idealisme mahasiswa mulai terkoyak – koyak. Hal itu dirasakan oleh mahasiswa pada awal tahun 2006 – an, hingga sampai saat ini gerakan itu mulai masif.
Kita akui bersama bahwasanya selama ini para petinggi – petinggi diberbagai lapisan akademik sudah mulai menyetir kita hingga sampai pada ranah tekhnis. Maka dari itu, perlu adanya langkah konkrit yang ditempuh agar kita semua tidak ditunggangi oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab dan semua itu hanyalah kepentingan segelintir orang yang ingin memanfaatkan kelemahan kita.
abdul rasit
Langganan:
Postingan (Atom)